Langsung ke konten utama

JADIKAN KEWAJIBAN LAYAKNYA KEBUTUHAN

Setiap makhluk yang hidup dipermukaan bumi Allah SWT mempunyai kebutuhan. Begitu juga halnya bagi manusia. Makan dan minum merupakan kebutuhan pokok bagi manusia selain rumah sebagai tempat tinggal dan pakaian yang layak tentunya. Karena makanan dan minuman mengandung zat yang dibutuhkan bagi tubuh supaya kuat dalam menjalankan berbagai aktivitas.
Bisa kita lihat, sekali saja dalam satu waktu kita tidak makan kita pasti akan merasakan ketidaknyamanan, pikiran kita selalu terfokus pada apa yang kita butuhkan itu, yakni kebutuhan untuk makan.
Bahkan, kita selalu berlomba-lomba untuk meraih segala sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan hidup kita di dunia ini. Namun, perlu kita sadari selain dari pada mengejar kebutuhan akan kesejahteraan, kita juga dituntut akan sebuah kewajiban.
Manusia diciptakan, bukan terjadi dengan sendirinya. Allah menciptakan kita bukan tanpa maksud apa-apa, melainkan Allah mempunyai maksud tertentu kepada hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS : Az-Zariyat: ayat 56.
“Dan tidaklah Aku (Allah) jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku."
Melihat makna dari ayat tersebut di atas, jelaslah maksud dan tujuan Allah menciptakan kita ke dunia yang fana ini yakni untuk mengerjakan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Perlu kita ingat bahwa dunia ini merupakan tempat singgahan bagi kita. Kita ibarat seorang musafir yang singgah sementara dalam perjalanan. Oleh karenanya kita harus mampu menjunjung tinggi segala aturan yang telah digariskan-Nya.
Dalam mengerjakan kewajiban kita, Shalat merupakan tiang dari segala bangunan iman yang harus kita dirikan. Tanpa shalat amalan lainnya yang kita kerjakan tidak akan mencapai kesempurnaan. Akan tetapi, sering sekali kita lalai dalam mengerjakannya. Kita selalu lalai dengan aktivitas untuk mengejar kebutuhan di tempat singgahan (dunia) ini.
Kebutuhan untuk makan selalu kita usahakan bisa tiga kali dalam sehari, sementara kewajiban yang digariskan lima kali sehari sering terabaikan. Coba kita jadikan shalat juga merupakan kebutuhan bukan hanya kewajiban, pasti sekali saja dalam satu waktu kita tidak mengerjakannya kita juga akan merasakan ketidaknyamanan, karena kebutuhan kita belum terpenuhi.
Selain sebagai tiang agama, shalat juga sangat banyak manfaatnya. Kita setiap hari menyisakan waktu supaya dapat berolah raga, padahal jika kita merujuk pada ilmu sains dalam shalat juga terdapat berbagai macam kelebihan yang dapat menyehatkan kita.

BERSAMBUNG ..............

Penulis : Irwan Musa, S.Pd
Alumni FKIP Unsam Langsa

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Bungker Rahasia Bukit Gua Jepang di Blang Panyang

Pernahkah Anda membayangkan apa yang tersembunyi di balik tenangnya perbukitan Desa Blang Panyang, Banda Sakti? Di balik keindahan permukaannya, perut bukit ini menyimpan labirin rahasia, lubang-lubang pertahanan tempat tentara Jepang bersembunyi selama menduduki Aceh pada tahun 1942-1945. Dinding guanya masih berdiri kokoh, menyelimuti ruangan dengan udara lembap dan kesunyian yang membuat bulu kuduk sedikit merinding, sebuah ruang waktu yang mengunci ketegangan masa lalu. Bagi para pelancong yang bernyali, gua tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Menyusuri lorong gulita tanpa pelita membawa sensasi magis tersendiri. Setiap langkah membawa imajinasi kita melompati waktu, merasakan kembali atmosfer mencekam saat para prajurit bertahan hidup, mengintai pergerakan musuh, hingga menimbun persenjataan mereka. Berdasarkan literatur sejarah dalam buku Revolusi Kemerdekaan Indonesia di Aceh karya T Ibrahim Alfian, Jepang pertama kali mendarat di Aceh pada 9 Februari 1942. Namun, ek...

ABU ALUE BILIE

         Tgk. H. Karimuddin, pimpinan Dayah Babussalam Alue Bili Aceh Utara merupakan salah satu sosok ulama disegani di Aceh. Dikalangan masyarakat, beliau akrab disapa Abi Karimuddin atau Abu Alue Bilie. Abi Karimuddin tutup usia (73 tahun) pada tanggal 17 Desember 2011 di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) Lhokseumawe. Abi Karimuddin meninggalkan enam putra, satu putri dan satu istri, serta 1.200 santrinya di dayah tersebut.