Langsung ke konten utama

Postingan

Jejak Bungker Rahasia Bukit Gua Jepang di Blang Panyang

Pernahkah Anda membayangkan apa yang tersembunyi di balik tenangnya perbukitan Desa Blang Panyang, Banda Sakti? Di balik keindahan permukaannya, perut bukit ini menyimpan labirin rahasia, lubang-lubang pertahanan tempat tentara Jepang bersembunyi selama menduduki Aceh pada tahun 1942-1945. Dinding guanya masih berdiri kokoh, menyelimuti ruangan dengan udara lembap dan kesunyian yang membuat bulu kuduk sedikit merinding, sebuah ruang waktu yang mengunci ketegangan masa lalu. Bagi para pelancong yang bernyali, gua tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Menyusuri lorong gulita tanpa pelita membawa sensasi magis tersendiri. Setiap langkah membawa imajinasi kita melompati waktu, merasakan kembali atmosfer mencekam saat para prajurit bertahan hidup, mengintai pergerakan musuh, hingga menimbun persenjataan mereka. Berdasarkan literatur sejarah dalam buku Revolusi Kemerdekaan Indonesia di Aceh karya T Ibrahim Alfian, Jepang pertama kali mendarat di Aceh pada 9 Februari 1942. Namun, ek...
Postingan terbaru

Riya Menggugurkan Pahala

Allah SWT menciptakan manusia di permukaan bumi ini adalah untuk mengabdikan diri kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Adz-Zariyat ayat 56 yang berbunyi, “Dan tidaklah   Aku (Allah) jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku."   Melihat pengertian ayat tersebut, jelaslah tujuan Allah SWT menciptakan kita ke dunia ini yakni untuk beribadah kepada-Nya. 

ABU KRUENG KALEE

Nama lengkapnya adalah Syaikh Teungku Hasan bin Teungku Muhammad Hanafiyyah bin Teungku Syaikh 'Abbas bin Teungku Muhammad Fadhli rahimahumullah. Dikalangan masyarakat Aceh, beliau lebih dikenal dengan panggilan Syaikh Hasan Krueng Kalee atau Abu Krueng Kalee. Beliau dilahirkan pada tanggal 13 Ra’jab 1303 (17 April 1886) di Kampung Meunasah Ketembu, Kabupaten Pidie, Aceh, (Alizar, 2011). Ayahandanya bernama Tengku Muhammad Hanafiyyah, terkenal dengan gelaran Teungku Chik Krueng Kalee I atau Teungku Haji Muda, seorang ulama besar yang memimpin Dayah (Pondok) Krueng Kalee yang terletak di Kabupaten Aceh Besar. Beliau juga merupakan sahabat karib pahlawan nasional Indonesia, Teungku Syaikh Muhammad Saman Tiro atau dikalangan masyarakat Aceh dikenal dengan Teungku Chik Di Tiro. Sementara ibundanya bernama Nyak Hafsah binti Teungku Syaikh Ismail atau Teungku Chik Krueng Kalee II. (Alizar, 2011).

Berkat Kejujuran

Syeikh Abdul Kadir semasa berusia 18 tahun meminta izin ibunya merantau ke Baghdad untuk menuntut ilmu agama. Ibunya tidak menghalang cita-cita murni Abdul Kadir meskipun keberatan melepaskan anaknya berjalan sendirian beratus-ratus batu. Sebelum pergi ibunya berpesan supaya jangan berkata bohong dalam apa jua keadaan. Ibunya membekalkan wang 40 dirham dan dijahit di dalam pakaian Abdul Kadir. Selepas itu ibunya melepaskan Abdul kadir pergi bersama-sama satu rombongan yang kebetulan hendak menuju ke Baghdad. 

ABON AZIZ SAMALANGA (1930-1989)

Nama asli beliau adalah Tgk. H. Abdul Aziz bin Muhammad Shaleh, beliau lebih akhrab disapa Abon `Aziz Samalanga atau Abon Mesjid Raya Samalanga. Beliau lahir di Desa Kandang Samalanga Kabupaten Aceh Utara (Kabupaten Bireuen sekarang ini) pada bulan Ramadhan tahun 1351 H / 1930 M. Abon menikah dengan seorang putri dari Abi Hanafiah, gurunya (Pimpinan Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga) pada waktu itu. Dari pernikahannya dengan putri gurunya itu, Abon dikaruniai 4 orang anak, yaitu Alm. Hj. Suwaibah, Hj. Shalihah, Tgk H. Athaillah, dan Hj. Masyitah. Abon Aziz dipanggil kehadhirat-Nya pada tanggal

ABU ALUE BILIE

         Tgk. H. Karimuddin, pimpinan Dayah Babussalam Alue Bili Aceh Utara merupakan salah satu sosok ulama disegani di Aceh. Dikalangan masyarakat, beliau akrab disapa Abi Karimuddin atau Abu Alue Bilie. Abi Karimuddin tutup usia (73 tahun) pada tanggal 17 Desember 2011 di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) Lhokseumawe. Abi Karimuddin meninggalkan enam putra, satu putri dan satu istri, serta 1.200 santrinya di dayah tersebut.