Langsung ke konten utama

Tuberkulosis Kelenjar Limfe, Bagaimana Mengobatinya?

Kuman mycobacterium tuberkulosis bukan saja menyerang paru-paru sehingga menimbulkan penyakit TB paru dengan berbagai macam gejala yang timbul seperti batuk berdahak, sesak napas dan batuk darah, tetapi juga dapat menyerang berbagai macam organ dan jaringan tubuh, seperti TBC kulit misalnya. Ada berbagai macam TBC kulit, satu diantaranya adalah Skrofuloderma, yaitu terdapat pembesaran kelenjar limfe akibat serangan kuman TBC yang di sebut juga Limfadenitis Tuberkulosa.
Penyakit ini sering terjadi pada 6 bulan pertama setelah terjadi infeksi akibat penyebaran melalui pembuluh Limfe (Limfogen) dan pembuluh darah (Hematogen). TBC tonsil atau TB paru biasanya yang merupakan sumber penyebaran ke kelenjar getah bening di daerah leher yang di sebut pembesaran servikal. Biasanya mengenai beberapa kelenjar sekaligus, di mana kelenjar yang terinfeksi akan membesar dan melekat satu dengan lainnya, dan dapat pula melekat dengan jaringan di sekitarnya seperti kulit dan otot.
Kelenjar yang membesar tadi lama-lama akan melunak dan akhirnya pecah membentuk fistel tempat keluarnya nanah dan jaringan mati. Muara fisel ini lama-kelamaan akan membesar, berupa ulkus dengan sifat-sifat yang khas yaitu bentuknya tidak beraturan, dindingnya bergaung dan sekitarnya berwarna merah kebiruan. Setelah beberapa lama, ulkus tadi dapat semkbuh spontan dengan terbentuknya jaringan kulit yang jelek dan tidak rata (sikatrik) dan suatu saat akan timbul lagi perlunakan kelenjar di sekitarnya, terbentuk fistel, dan seterusnya seperti tadi.
Yang khas pada pembesaran kelenjar Limfe ini adalah tidak adanya rasa sakit, sehingga sering penderitanya malah tidak tahu kalau kelenjar limfenya membesar. Sering pembesaran terjadi pada kedua sisi, kiri maupun kanan, walaupun biasanya sisi yang satu lebih besar dari sisi yang lain. Pembesaran kelenjar Limfe ini tidak selalu di leher, tetapi juga bisa di ketiak, lipat paha atau di rahang bawah.
Pengobatannya sama dengan TB paru, demikian juga dengan lamanya makan obat. Bila terjadi abses yang di sertai infeksi sekunder tentunya di perlukan antibiotika. Kadang-kadang di perlukan operasi untuk mengeluarkan kelenjar yang membesar. Pengobatan yang tidak teratur akan menyebabkan penyakitnya tidak kujung sembuh dan menjadi kronis dimana seringnya terjadi fistel dan ulkus baru.
Bagi yang alergi dengan obat-obat tuberkulosis seperti Etambutol, INH, Rifampicin, dan sebagainya atau mungkin tiada dana untuk membeli obat-obat tersebut, masih ada cara lain untuk mencari kesembuhan seperti dengan tanaman obat misalnya.
Ada banyak tanaman obat yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit TBC kelenjar seperti Brojo Lintang. Beberapa diantaranya akan kami ulang seperti:
• 15-30 gr daun Nanas Kerang ( Rhoeo discolor (L.Her) Hance ) di godok di minum.

• Ekstrak daun dan batang Beluntas ( Pluchea Indica (L.) Less ) di tambah ekstrak gelatin dari kulit sapi dan Rumput Laut ( Laminaria Japonca ) di tim sampai lunak, dimakan.

• 30-60 gr batang dan akar segar atau seluruh tumbuhan Bayam Duri ( Amaranthus Spinosus L.) setelah di cuci bersih di godok dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas, tambahkan air secukupnya, diminum.
Bunga Ros, Brojo lintang, dan beberapa tanaman lainnya dapat di gunakan untuk pengobatan penyakit ini. Tentunya tidak bisa satu dua kali minum, tetapi rutin di lakukan setiap hari. Brojo lintang yang nama latinnya nya Belamcanda Chinensis (L.) DC. Dan termasuk suku Iridaceae banyak di temukan sebagai tanaman hias di halaman rumah, taman-taman bahkan sering di temukan di tanam di kuburan. Tanaman ini oleh orang sunda disebut Jamaka atau Suliga dan di jawa disebut Semprit atau Wordi.
Tanaman yang mempunyai rasa pahit, sejuk dan agak beracun ini di dalam tubuh masuk ke dalam meredian paru-paru, hati dan limpa serta berkhasiat menurunkan panas, melancarkan peredaran darah, anti toksik, peluruh dahak, antibiotik dan pencahar. Akar atau seluruh tanaman dapat digunakan seperti sakit tenggorokan, TBC kelenjar, tidak datang haid, sembelit, sakit pinggang, digigit ular atau anjing, radang kulit, malaria atau gondongan. (Adriansyah, Akp)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Bungker Rahasia Bukit Gua Jepang di Blang Panyang

Pernahkah Anda membayangkan apa yang tersembunyi di balik tenangnya perbukitan Desa Blang Panyang, Banda Sakti? Di balik keindahan permukaannya, perut bukit ini menyimpan labirin rahasia, lubang-lubang pertahanan tempat tentara Jepang bersembunyi selama menduduki Aceh pada tahun 1942-1945. Dinding guanya masih berdiri kokoh, menyelimuti ruangan dengan udara lembap dan kesunyian yang membuat bulu kuduk sedikit merinding, sebuah ruang waktu yang mengunci ketegangan masa lalu. Bagi para pelancong yang bernyali, gua tersebut memiliki daya tarik tersendiri. Menyusuri lorong gulita tanpa pelita membawa sensasi magis tersendiri. Setiap langkah membawa imajinasi kita melompati waktu, merasakan kembali atmosfer mencekam saat para prajurit bertahan hidup, mengintai pergerakan musuh, hingga menimbun persenjataan mereka. Berdasarkan literatur sejarah dalam buku Revolusi Kemerdekaan Indonesia di Aceh karya T Ibrahim Alfian, Jepang pertama kali mendarat di Aceh pada 9 Februari 1942. Namun, ek...

JADIKAN KEWAJIBAN LAYAKNYA KEBUTUHAN

Setiap makhluk yang hidup dipermukaan bumi Allah SWT mempunyai kebutuhan. Begitu juga halnya bagi manusia. Makan dan minum merupakan kebutuhan pokok bagi manusia selain rumah sebagai tempat tinggal dan pakaian yang layak tentunya. Karena makanan dan minuman mengandung zat yang dibutuhkan bagi tubuh supaya kuat dalam menjalankan berbagai aktivitas. Bisa kita lihat, sekali saja dalam satu waktu kita tidak makan kita pasti akan merasakan ketidaknyamanan, pikiran kita selalu terfokus pada apa yang kita butuhkan itu, yakni kebutuhan untuk

ABU ALUE BILIE

         Tgk. H. Karimuddin, pimpinan Dayah Babussalam Alue Bili Aceh Utara merupakan salah satu sosok ulama disegani di Aceh. Dikalangan masyarakat, beliau akrab disapa Abi Karimuddin atau Abu Alue Bilie. Abi Karimuddin tutup usia (73 tahun) pada tanggal 17 Desember 2011 di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) Lhokseumawe. Abi Karimuddin meninggalkan enam putra, satu putri dan satu istri, serta 1.200 santrinya di dayah tersebut.